Skip to main content

Posts

Bersainglah di Kualitas

Kualitas itu lebih baik dari kuantitas. Sampai saya nulis ini, saya masih percaya bahwa bersaing di kualitas itu jauh lebih nikmat daripada bersaing di harga termurah.
Bersaing di harga termurah (murah-murahan) itu capek, beneran capek. Saya pernah juga menjual bawang goreng kiloan, grosiran. Kualitas hampir sama dengan bawangkita harga kiloan. Namun karena memang bersaing di murah-murahan, ada orang lain menjual lebih murah dikit, konsumen pindah. Target marketnya waktu itu memang ke orang yang beli kiloan, mereka jual ke warung makan. Buat target market saya, makin murah makin bagus. Tapi bakal capek. Di atas langit masih ada langit, begitu juga di bawah tanah masih ada tanah. Akhirnya saya sudah tidak lagi menjual yang curah, namun menggunakan kualitas terbaik, dengan brand yang sudah baik.
Bersaing pada kualitas akan mendapatkan market tersendiri. Lebih enak, lebih nikmat. Punya kebanggaan tersendiri. Carilah konsumen juga yang juga berkualitas. Dengan kualitas, konsumen akan rela m…
Recent posts

Pengembangan Kapasitas Usaha

Mendadak rabu malam ada suara telpon masuk. Tertulis di layar telpon adalah nama seorang guru saya yang juga ketua Forum Komunikasi UMKM Kab Nganjuk, PakYazid. Dalam sambungan telepon itu beliau meminta saya untuk menjadi narasumber pada acara halal bihalal temen-temen UKM Nganjuk Kediri yang diadakan esok hari, yaitu hari kamis pagi. Beliau meminta materi tentang pengembangan kapasitas usaha. Dan saya selalu bilang SIAP.
Secara diam-diam, materi saya alihkan kepada pengembangan marketing dengan memanfaatkan dunia online. Karena saya sadar sebagian besar para pelaku usaha (UKM) masih belum memanfaatkan media online secara maksimal. Saya sampai saat ini saya berpendapat, jika permintaan jauh lebih besar, maka kita secara otomatis akan meningkatkan kapasitas produksi kita. Lebih asik kebanjiran order daripada kebanjiran produk. Betul kan?
Pada kegiatan ini, saya mencoba membuka data tentang banyaknya potensi market online di Indonesia. Tentang bagaimana mudahnya menjual produk via onlin…

Kompetitor adalah motivator.

Ada sebagian orang yang tak nyaman jika usahanya ada yang menyaingi. Apalagi yang menjadi kompetitornya adalah tetangga, atau teman, atau saudara sendiri. Dan ada yang lebih tak nyaman lagi, yang menjadi kompetitor adalah karyawannya sendiri. Ada.
Saya mungkin sebaliknya. Setahun sejak usaha Bawang Goreng Nabati saya banyak mengajak orang di Nganjuk untuk ikutan usaha BAWANG Goreng. Saya selalu bilang usaha ini laku dan potensi. Gimana tidak, hampir setiap rumah, setiap warung / restaurant membutuhkan BAWANG Goreng. Iya kan?
Kenapa begitu? Karena sejak saat itu saya punya impian yaitu BAWANG Goreng menjadi oleh-oleh khas dari Nganjuk. Karena komoditi terbesar di kota angin ini adalah BAWANG Merah. Semakin banyak yang produksi BAWANG Goreng, Nganjuk akan semakin dikenal dengan produk ini.
Contoh, kalo diajak makan malam di Jl. A Yani Nganjuk, makan apa yang terlintas di pikiran kamu? Pasti makan nasi pecel.
Contoh lain, kalo di Jakarta, kalo mau beli HP harus pergi kemana? Pasti sebagian b…

Berawal Dari 50

Kapan hari ada pemuda kelahiran 94, telpon pengen belajar usaha.
Akhirnya memilih opsi jual bawangmerah yang langsung dari petani. 
Setelah ngerti cara2nya, doi hari selasa pagi order 50kg. Sore saya kirim, sampe bekasi rabu pagi.
Dari 50kg, dia kemasin dua kiloan, artinya dijual hanya ke sekitar 10 orang tetangganya (katanya per orang ada yg beli 2 ada yg 3). 
Rabu malem abis, kamis pagi order lagi. 
Cerita kayak gini banyak banget, ada temen lain di bojonegoro, alhamdulillah sekarang sehari bisa ngejual sekitar 1 ton. Bayangkan jika perkilo saja profit seribu rupiah, dikali 1 ton per hari.
Alhamdulillah selama ini diberi kesempatan bisa membantu banyak orang membuka usaha untuk meningkatkan ekonomi mereka. 
Berawal dari 50 kg.
Yang ingin usaha di bidang bawang merah ini juga bisa whatsapp ke 0812 1716 945

Pembicara Kewirausahaan di Universitas di Kediri

Senin malam WA saya bunyi dari seorang dosen akademi kebidanan di universitas di Kediri. Beliau ingin mengundang saya untuk memberi kuliah tamu kepada semua mahasiswa D4 nya pada mata kuliah kewirausahaan, mereka ingin belajar dari seorang praktisi. Jadwalnya hari Rabu besok, dan alhamdulillah hari Rabu tersebut jadwal kosong, dan langsung berangkat.
Awalnya bu dosen tersebut meminta saya untuk mengisi materi tentang iklan di social media. Namun sebelum memulai kuliah, saya survey ke mahasiswa yang hadir dan ternyata mayoritas belum memiliki usaha. Mendadak materinya saya ganti.
Kenapa saya ganti, karena saya yakin, jika dipaksakan dengan materi tersebut, saya yakin apa yang akan saya sharing akan hilang begitu saja, tidak dipraktekkan.
Saya mencoba mengeksplore hampir semua mahasiswa yang hadir. Mayoritas dari luar Jawa. Nah materi yang saya berikan adalah menemukan peluang usaha untuk mereka setelah mereka kembali ke kampung halamannya nanti.
Dan alhamdulillah, mayoritas dari mereka…

Pengen Usaha, Tapi Bingung Mulainya, Gimana Dong?

Banyak sekali teman-teman yang ingin memulai usaha, tapi  ga tau mau usaha apa, dan dimulai dari mana. Apakah kamu juga gitu?
Ga apa-apa, itu wajar.
Menurut pengalaman saya, jika ingin usaha, segera lakukan. Apapun itu. Karena semangat terbesar kamu ada pada saat itu. Jika ditunda, biasanya semangatnya akan berkurang dan akhirnya tidak jadi.
Membuka usaha tidak harus menjadi produsen. Menjadi produsen itu berat, berat sekali. Produsen harus mencari bahan baku, mencari pegawai yang ahli untuk mendapatkan hasil produksi yang baik. Dan karyawan ahli tidak bisa digaji murah.
Menjadi produsen harus memikirkan kualitas produknya, mau membuat produk untuk kelas menengah ke bawah atau menengah ke atas? Bahan baku apa saja yang dibutuhkan. Dimana mendapatkannya, bagaimana jika supplier kehabisan barang.
Menjadi produsen baru, akan sangat sibuk di dunia produksi. Jika sudah sibuk, tenaga hampir habis untuk melakukan pemasaran. Tidak ada waktu belajar tentang pemasaran, karena waktunya habis un…

Bulan Kebebasan

Sekitar 2 tahun lalu saya sempat menuliskan sebuah wishlist. Dimana saat itu saya menulisnya berada pada sebuah ruangan di kota Surabaya. Lagi-lagi saya menulis tanpa berhitung. Saya hanya percaya bahwa Allah akan membanu saya untuk mewujudkan wishlist saya itu. Apa wishlist saya saat itu?
.....
Bulan Mei 2018 ini, sampai dengan saya menulis tulisan ini, ada beberapa kejadian besar dalam hidup saya. Tanggal 1 Mei tepat di hari buruh, saya mengirimkan sebuah permohonan penghentian asuransi yang telah saya bayar selama 10 tahun sejak 2008 lalu. Dan alhamdulillah tidak butuh waktu lama, hanya hitungan hari permohonan saya disetujui dan dana saya juga sudah dicairkan.
Tanggal 2 Mei, ayah saya mendapatkan kenaikan pangkat. Dan saya untuk pertama kalinya datang dan mengantar orang tua saya menuju tempat kenaikan pangkat, di Surabaya. Padahal tanggal 1 Mei saya masih berada di Yogyakarta. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk membaktikan diri kepada orang tua.
Sekitar 1 minggu lalu, s…

Mobile Apps yang Mubadzir

Sejak berkecimpung di dunia usaha, saya banyak bertemu para stake holder di kota tempat tinggal saya, Nganjuk Jawa Timur. Banyak juga akhirnya memiliki teman baru dari dunia yang sama. Dari 2 tahun yang lalu tak sedikit yang meminta saya untuk membuat sebuah mobile apps (aplikasi di HP terutama untuk Android) dengan berbagai tujuan.
Ada yang untuk menampilkan produk UKM Nganjuk, ada juga untuk menampilkan tempat wisata, ada juga yang ingin menampilkan program kerja, dan lain-lain. Namun saya selalu menolaknya. Kenapa? Ya karena saya ga bisa. Hahaha
Pandangan saya adalah ga bakal berguna saja aplikasi semacam itu.  Banyak dari pihak kedinasan yang bisa menganggarkan biaya besar untuk membuat semacam itu, tapi saya selalu bilang itu buang-buang duit saja.  Banyak yang ingin terlihat modern, tapi ga melihat kebutuhan.
Kok bisa? Dulu, saat diminta untuk membuat aplikasi untuk menampilkan produk-produk Nganjuk, saya balik tanya beberapa hal. 1. Apakah memang masyarakat / market butuh itu? …

Menjadi Pembicara Kewirausahaan di Bali, Sehari Makan di 3 Provinsi

Kemarin lusa menjelang tidur malam ada pesan masuk baik melalui mesenger Facebook juga melalui whatsapp, dari Mba Ria, seseorang di Depok. Beliau menceritakan bahwa hari senin sore ada kegiatan di Bali dan sedang membutuhkan pembicara dengan tema kewirausahaan untuk mantan pegawai kantoran. 
Setelah ngobrol lama, akhirnya terbitlah tiket perjalanan menuju Bali. Cerita makin seru, karena abis long weekend. Saya sudah antri untuk naik bis dari setelah subuh di terminal Nganjuk. Namun sampe jam setengah 7 tak juga dapat bis. Padahal jadwal pesawat di Juanda pukul 11.00 WIB. Oiya, perjalanan dari Nganjuk ke Surabaya membutuhkan waktu 3 jam normal.

Tak pikir panjang, saya masuk ke bis ekonomi namanya bis Jaya. Saya sudah duduk menunggu tapi bis ga juga bergerak. Di belakang terlihat bis Sumber Kencono yang sudah penuh. Tak pikir panjang, saya pindah ke SUmber Kencono itu. Berdiri dari Nganjuk sampe Surabaya. Tak apalah...
Sepanjang perjalanan saya dzikir terus, mudah-mudahan bisa sampe di …

Kenangan Itu Bersamamu

Jumat 16 Februari 2018 sekitar pukul 10 pagi, tiba-tiba ada sms yang menanyakan tentangmu. Singkatnya pengirim sms dan saya janjian untuk ketemu setelah Jumatan untuk melihatmu, melihat kondisimu.
Sore hari, diiringi adzan ashar, terjadilah sebuah keputusan, yang semoga membawa keberkahan. Kamu berpindah tangan, benpinyo. Terima kasih telah menemani saya dan keluarga selama 5 tahun ini. Terasa berat memang untuk berpisah denganmu. Banyak kenangan diantara kita. 
Benpinyo, dirimu tak hanya sebuah mobil buat saya. Dirimu sudah seperti keluarga. Susah senang sudah pernah kita jalani. Kau antar keluarga kami kemanapun kami mau. Dirimu tak pernah rewel, tak pernah minta macam-macam. 
Maafkan saya jika dalam merawatmu selama ini kau rasa masih kurang. Tapi yakinlah, pemilikmu saat ini akan menjagamu lebih baik dari aku menjagamu.
Dan setiap pertemuan selalu ada perpisahan.
Benpinyo, dirimu adalah sahabat pertama keluarga kami.
Terima kasih banyak.

Kita Masuk Ke Genarasi Tanpa Kantor

Di kota kecil seperti Nganjuk Jawa Timur, tempat saya tinggal saat ini, kebanyakan orang melihat status kesuksesan adalah dengan cara melihat kita bekerja di kantor apa? Apalagi kalo di kantor pemerintahan, sudah bisa dibilang sukses. Amin... 
Ada yang setelah sholat ashar bertanya tentang kesibukan saya. Kata beliau (yang seorang pensiunan), 'saya lihat tiap hari bisa ke masjid, dhuhur ada, ashar ada, dan pake baju biasa. Kesibukannya apa mas?' Banyak juga tetangga yang menanyakan seperti itu. Ya, memang sejak saya RESIGN dari sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Jakarta, saya setiap hari memang berada di rumah saja, sejak Maret 2015. Tapi bukan berarti hanya makan, tidur, bernafas, dan cuci baju. 
Ga sedikit saudara yang dulu itu sibuk mencarikan pekerjaan, dan selalu saya tolak halus. Mereka tidak tau kalo hari pertama setelah resign, saya lebih sibuk daripada saat saya jadi karyawan, tapi ga ada yang tau selain keluarga saya sendiri.
Pernah dulu saat saya ditanya kes…

Wisata Baru di Nganjuk

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan tamu hebat. Seorang guru muda dalam hal bisnis online. Setelah belajar seharian, beliau pengen diajak melihat alam Nganjuk seperti apa. 
Lalu saya ajak naik ke Sawahan untuk cari durian dan pemandangan lain. Dan juga saya ajak ke tempat wisata baru di Nganjuk. Kweden River Park namanya.
Lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Nganjuk, namun suasana desa sangat menyegarkan mata. Di KRP (Kweden River Park) terdapat banyak hal untuk melakukan refreshing.
Bisa berenang, untuk anak-anak. Bisa juga memancing untuk bapak-bapak. Bisa juga hanya sekedar foto-foto, untuk ibu-ibu nih biasanya.
Ada body rafting juga di sana, tapi saya kurang tau jaraknya berapa ratus meter atau berapa kilometer. Air sungainya masih segar, alami dari air terjun Sedudo yang konon dipercaya dapat bikin awet muda.
Di samping sungai, terdapat beberapa meja kursi untuk menyantap makanan, sambil melihat air mengalir. Sesekali melihat orang 'hanyut'
Ga perlu bawa makanan d…

Tentang Karyawan

Tadi pagi, ada SMS masuk dari salah seorang karyawan bagian pengemasan bawangkita. Isi SMS nya adalah untuk ijin tidak masuk kerja dikarenakan kedua putrinya sakit.
Istri saya langsung berinisiatif untuk mengajak menjenguknya ke rumahnya. Kebetulan saya tau rumahnya, masih 1 kecamatan tapi beda desa.
Karyawan saya semuanya bukan anak-anak muda seperti kebanyakan teman-teman saya yang punya usaha. Tapi ibu-ibu, bahkan ada yang sudah punya cucu. Hehehe
Saya adalah bosnya, tapi mereka jauh lebih senior daripada saya. Dan saya selalu ingin kenal lebih jauh tentang semua karyawan saya. Bersyukur jika bisa menjadi keuarga untuk mereka semua.
Doakan ya..

Akhirnya Adik Saya Sudah Menikah Semua

Januari tanggal 21 2018 kemarin, di rumah ada gawe. Yaitu ngunduh mantu adik terakhir saya. 2 hari sebelumnya, yaitu tanggal 19 Januari, dilaksanakan akad nikah di Surabaya.
Proses acara ini terbilang cukup cepat, kurang lebih butuh waktu 3 bulan. Proses yang cukup cepat, adik saya (Tri Satya Putra Pamungkas) memang sudah ingin membina rumah tangga. Dan Ayah saya ingin menikahkan semua putra putrinya sebelum masa pensiun.
Dan Alhamdulillah terlaksana.
Saya merasa bahagia sekali, di saat adik-adik saya menikah, di saat orang tua saya punya gawe, saya sudah berada di samping mereka. Dan memang alasan resign saya dulu adalah memang untuk keluarga. Sebelumnya adik perempuan saya menikah bulan april 2015, saat itulah saya memutuskan resign pada bulan februari 2015. Sejak itu kami jadi tinggal sekota, bersama orang tua, istri, dan mertua. Dan sejak saat itu saya bisa lebih banyak mengabdi pada keluarga. Entah mungkin ini yang disebut passion, passion saya adalah keluarga.
Tak terasa ya, ya…

Cara China Membina PKL

Di China, terutama diluar zona ekonomi, setiap orang berhak mendapatkan tempat untuk berdagang dipasar yang disediakan pemerintah. Jadi kalau pemerintah bangun pasar maka semua PKL harus dapat jatah kios. Skema kepemilikan kios ada dua. Pertama, bagi hasil berdasarkan omzet atau hak pakai selama 100 tahun melalui sewa. Apakah dia mau bagi hasil atau hak pakai? Selama pembangunan pasar itu PKL harus menabung agar mencapai 30% dari harga kios. Ini untuk memastikan bahwa PKL itu memang qualified sebagai pedagang. Pembangunan tidak diserahkan kepada developer tapi oleh pemda sendiri. Jadi harga kios tentu bukan harga seperti kalau developer swasta yang bangun. Rata rata satu kios di China harganya tidak lebih Rp 30 juta untuk ukuran 2,5 x 3 meter. Jadi benar benar pasar dibangun bukan motive business rente menarik laba dari propery tapi murni untuk peningkatan ekonomi.
Pedagang tidak boleh menentukan apa barang dagangannya. Tapi yang menentukan barang dagangannya adalah pemda. Mengapa? ka…